Bacaan: Kejadian 23-24
Fokus: Kejadian 23

IMAN ABRAHAM YANG TETAP MENATAP KE DEPAN

Tuhan telah memanggil Abraham untuk meninggalkan negeri leluhurnya, baik di Ur-Kasdim maupun di Haran, untuk menuju ke Kanaan, tanah yang dijanjikan dan diberikan Tuhan kepada-Nya dan keturunannya. Saat itu ia dan keluarga telah berada di Kanaan. Abraham memiliki persoalan ketika istrinya meninggal dunia. Ia sebagai kepala keluarga bertanggungjawab untuk menguburkan istrinya secara layak. Ia harus menguburkan di sebuah pemakaman keluarga yang layak. Padahal saat itu ia bersama keluarga masih tinggal seperti orang asing di Kanaan. Ia saat itu belum memiliki tanah untuk pemakanan keluarga. 

Untuk menghadapi masalah ini, ia tidak ingin mengambil jalan pintas dengan melihat ke belakang, atau mengembalikan istrinya, Sara, untuk dikuburkan di Haran. Ia tetap menatap ke depan. Tanah leluhur baginya adalah tanah di Kanaan ini. Ia harus memiliki tanah untuk kuburan istri dan bagi keluarganya kelak. Sekali lagi, ia juga tidak mau mengambil jalan pintas dengan menerima tanah makam yang akan diberikan kepadanya secara gratis (baca ayat 6). Tetapi Abraham tidak menginginkan yang gratisan itu, melainkan ia ingin membeli sendiri, benar-benar milik sendiri. Maka ia ingin membayar dengan mahal sebuah goa di Makhpela, yang masuk dalam kebun yang dimiliki oleh Efron. Semula memang ia hanya menginginkan goanya saja. Tetapi kemudian ia malah membeli bersama dengan kebunnya dengan harga yang sangat tinggi. Ia membayarnya dengan penuh. Imannya adalah iman yang tidak melihat ke belakang, melainkan iman yang menatap ke depan. Masa depan ada di tangan TUHAN.

SOLI DEO GLORIA.

12 Juli 2019

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *