Bacaan: Kejadian 33-34
Fokus: Kejadian 33:1-17

PERDAMAIAN ITU INDAH

Setelah manusia jatuh dalam dosa, kita disuguhkan cerita pertama yang menyedihkan, yaitu cerita tentang Kain membunuh adiknya. Cerita ini menginformasikan, bahwa setelah manusia jatuh dalam dosa, maka selain hubungan antara Tuhan dan manusia telah rusak, juga hubungan antar manusia rusak, bahkan antara anggota sendiri, dalam hal ini hubungan antara kakak dan adik. Pastilah keadaan ini bukanlah menggambarkan sejuknya suasana kedamaian hubungan antar manusia, hubungan yang panas dan saling curiga.

Cerita pada perikop-perikop sebelumnya diceritakan, bahwa hubungan antara Yakub dan Esau, saudara kembar, telah renggang, dan bahkan Esau berikhtiar untuk membunuh adik kembarnya, Yakub. Hubungan ini semakin memanas, sehingga oleh karena merasa ketakutan akan pembunuhan yang direncanakan Esau, maka Yakub melarikan diri ke rumah saudara ibunya, yaitu Laban. Setelah bertahun-tahun di rumah Laban, dan diakhiri dengan sebuah konflik dengan Laban, maka Yakub pergi meninggalkan Laban untuk kembali ke Kanaan. Namun oleh karena perselisihan tadi, maka Yakub merasa takut untuk bertemu Esau. Tetapi kisah ini diakhiri dengan sebuah happy ending, yaitu secara tak terduga justru Esau berlari mendapatkan Yakub, didekapnya adik kembarnya itu, dipeluk lehernya dan diciuminya. Sebuah kisah kontras terjadi. Semula yang terjadi adalah kekakuan, dan bahkan dalam ketakutan, Yakub sujud sampai ke tanah tujuh kali. Tapi suasana gersang, hambar, gerah dan panas itu diubah menjadi kesejukan kasih ketika Esau memeluk adiknya dengan merubah suasana. Ini membuktikan, bahwa perdamaian itu jauh lebih indah daripada perkelahian.

Di dalam kehidupan kita sekarang ini sering diwarnai dengan warna yang gelap dan suram oleh kebencian, keirihatian, pertentangan, dan sebagainya. Lebih lagi di situasi politik sekarang ini pasca pemilu. Kehidupan manusia sering dirundung ketakutan, saling nyinyir dan nyindir di media sosial. Kita semua membutuhkan hati seperti Esau yang sudi untuk memeluk adiknya. Juga hati seperti Yakub yang sudi datang terlebih dulu untuk berdamai. Perdamaian itu indah. Dalam pelayanan, ketika perdamaian terjadi, maka kedamaian yang indah akan tercipta.

​SOLI DEO GLORIA





17 Juli 2019

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *