Bacaan: Kejadian 3-4
Fokus: Kejadian 4:26

MEMANGGIL NAMA TUHAN

Perikop pada Kejadian 4:17-26 dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu ayat 17-24 dan ayat 25-26. Bagian pertama adalah silsilah orang-orang yang fasik, sedangkan bagian kedua adalah silsilah orang-orang yang menjaga hubungannya dengan TUHAN.
Bagian pertama, ayat 17-24 dimulai dari Kain yang telah membunuh adiknya ini lari dari hadapan TUHAN. Meskipun ia telah berbuat dosa di hadapan TUHAN, ia tetap mendapatkan karunia-Nya melalui perlindungan-Nya. Namun apa yang diperbuatnya? Ia tidak percaya kepada perlindungan TUHAN itu. Ia kemudian mendirikan kota benteng berkubu. Kata “kota” dalam bahasa Ibrani adalah ‘ir, dan jika ditambahkan dengan awalan ha, maka menjadi ha’ir. Kata ha’ir selain berarti “kota itu”, juga berarti “tembok”. Jadi kota pada zaman dulu selalu identik dengan tembok. Kegunaan tembok adalah melindungi orang-orang yang tinggal di dalam tembok keliling tersebut, dan tempat di dalam tembok itu disebut “kota”. Kembali lagi kepada silsilah Kain. Kain tidak percaya lagi kepada perlindungan TUHAN. Lebih baik ia melindungi diri sendiri, dan sudah merasa bisa melindungi diri sendiri. Untuk itulah dengan sesumbar di hadapan TUHAN, ia menamai kota itu sesuai dengan nama anaknya, Henokh. Ini adalah ciri orang yang fasik, yaitu tidak mau bergantung kepada TUHAN, melainkan hanya bergantung kepada kekuatan diri sendiri. Di samping itu keturunannya, Lamekh, juga menirunya dengan membunuh orang dengan seenak hatinya. Tidak ada rasa kasih antara sesama manusia. Rasa belas kasih tidak ditampakkan oleh orang fasik, orang yang berdosa di hadapan TUHAN. Ini adalah ciri kedua dari orang fasik yang terkandung dalam penulisan silsilah Kain.

Berbeda dengan silsilah di atas, pada silsilah kedua ini ada pernyataan yang khas, yaitu “sebagai ganti Habel” bagi Set, anak Adam. Jadi sebenarnya dua silsilah ini meneruskan cerita Kain dan Habel pada perikop sebelumnya. Oleh karena ada pernyataan “sebagai ganti Habel”, maka sebut saja ini adalah silsilah Habel. Seperti cerita Habel di atas, bahwa Habel adalah orang benar, orang yang senantiasa memelihara hubungannya dengan TUHAN. Ia adalah orang yang senantiasa memberikan yang terbaik dari berkat TUHAN yang telah diberikan kepadanya. Ia adalah orang yang menatalayani berkat yang telah diterimanya. Yang terpenting pada perikop ini dinyatakan, bahwa “Waktu itulah orang mulai memanggil nama TUHAN.” Artinya, bahwa mulai lagi memanggil nama TUHAN, setelah sebelumnya dikuasai oleh keturunan Kain yang penuh dengan kefasikan. Jadi berbeda dengan keturunan Kain, keturunan Habel (dalam hal ini Enos) adalah orang-orang yang bergantung kepada perlindungan TUHAN.

Mari kita selalu bergantung kepada TUHAN. Panggillah selalu nama-Nya. Berseru dan berdoalah kepada-Nya.

​SOLI DEO GLORIA.
2 Juli 2019

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *