7 Agustus 2019

Bacaan: Keluaran 25-26
Fokus: Keluaran 25:1-9

PERSEMBAHAN YANG TERBAIK

Perikop yang menjadi fokus kita pada hari ini berbicara mengenai perintah pembangunan kemah suci, di mana Tuhan berdiam di tengah umat-Nya. Yang terpenting di sini adalah kata “diam di tengah-tengah mereka”. Oleh karena kasih-Nya kepada umat-Nya, Ia ingin bersama dengan umat-Nya. Oleh karena itu ada ungkapan di kalangan umat-Nya, yaitu “imanuel” yang berarti Tuhan beserta kita. Untuk mewujudkannya, ada dua hal yang harus dilakukan umat-Nya, yang merupakan respon akan keinginan Tuhan untuk bersama umat-Nya, yaitu

1. Umat membuat kemah suci dan perangkatnya sebagai simbol kehadiran Tuhan di tengah umat-Nya. Memang bangunan atau kemah hanya sekadar tempat saja. Yang terpenting di situ, ada tempat untuk berkumpulnya umat, dan ketika dalam persekutuan itu, Tuhan hadir di tengah-tengah mereka. Itulah fungsi bangunan gereja sekarang ini. Gedung gereja hanya sekadar bangunan biasa yang tidak boleh dikultuskan. Tetapi fungsi bangunan tersebut adalah mempersekutukan umat, dan Tuhan hadir dalam persekutuan itu.

2. Bangunan atau kemah tersebut tidak boleh dikultuskan, karena yang harus disembah adalah Tuhan saja. Oleh karena itu Salomo berkata pada 2 Tawarikh 2:4, “aku hendak mendirikan sebuah rumah bagi nama TUHAN …” Jadi fungsi bangunan atau kemah tersebut adalah tempat berkumpulnya umat untuk menguduskan dan memuliakan nama TUHAN.

3. Untuk membangun tempat bagi nama TUHAN tersebut diperlukan “uang”, sehingga dibutuhkan persembahan khusus dari umat. Persembahan adalah sebuah respon manusia atas kasih dan anugerah Tuhan, bahwa Ia ingin berdiam bersama dengan umat-Nya. Maka, biarlah kita mau memberikan persembahan yang terbaik bagi proses koinonia atau persekutuan di dalam gereja, agar dapat berjalan dengan baik.

SOLI DEO GLORIA

6 Agustus 2019

Bacaan: Keluaran 23-24
Fokus: Keluaran 24:3

TAAT DAN MELAKUKAN FIRMAN-NYA

Paulus pernah berkata, bahwa Firman Tuhan itu berguna untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran (2 Tim. 3:16). Dengan Firman Tuhan, kita akan mendapatkan pengajaran-pengajaran di dalam kehidupan tentang bagaimana kita dapat berbuat baik. Tetapi yang pasti, perbuatan baik di sini bukanlah usaha untuk mendapatkan keselamatan, melainkan perbuatan baik adalah tindakan beyond keselamatan. Apa yang dimaksud?

1. Keselamatan adalah anugerah Tuhan. Dalam hal ini sama sekali tidak ada peran manusia. Semuanya didasarkan kasih Tuhan yang demikian besar bagi manusia.

2. Manusia memanggapi anugerah Tuhan tersebut dengan percaya atau beriman kepada Tuhan Yesus sebagai Juruselamat pribadi. Dengan percaya, maka manusia memperoleh jaminan kepastian akan hidup kekal.

3. Setelah kita menerima keselamatan dan jaminan hidup kekal tersebut, maka kita akan menjadi garam dan terang dunia, yaitu dapat menjadi contoh teladan bagi orang lain, agar mereka juga dapat mengenal Kristus sebagai Juruselamat pribadi mereka. Untuk mewujudkannya, dalam kasih-Nya, Ia memberikan Firman-Nya, agar umat-Nya diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik (2 Tim. 3:17).

Setelah umat Israel mendapatkan Firman Tuhan yang berfungsi seperti yang dijelaskan di atas, maka mereka berikrar: “Segala firman yang telah diucapkan TUHAN itu, akan kami lakukan” (Kel. 24:3). Biarlah ikrar itu juga ikrar kita. Kita benar-benar mau membaca, merenungkan, terlebih melakukan firman-Nya hari demi hari.

SOLI DEO GLORIA

5 Agustus 2019

Bacaan: Keluaran 21-22
Fokus: Keluaran 22:31a

Cinta Keteraturan

Terdapat dua macam ekstrem ajaran teologis tentang aturan.

Ekstrem pertama adalah ajaran yang menekankan tentang aturan atau hukum. Hukum sangat penting bagi manusia. Maka semua manusia harus taat hukum. Hukum harus dijalankan letterlijk apa adanya seperti yang tertulis. Kalau di situ tertulis “hukuman mati”, ya harus dilaksanakan seperti itu. Orang-orang seperti ini adalah orang-orang nomistik. Mereka “diperbudak” oleh hukum, karena hidup mereka adalah demi hukum.

Ekstrem kedua adalah ajaran yang menekankan tentang kebebasan. Ketika Kristus telah membebaskan manusia, maka tidak perlu Taurat lagi, tak perlu hukum dan aturan lagi, karena hukum atau aturan itu mengekang dan membelenggu.

Tentu saja kedua ekstrem tersebut keliru. Kita memang telah dibebaskan oleh Kristus, yaitu dibebaskan dari dosa. Paulus juga berkata, bahwa kita telah dibebaskan dari belenggu hukum. Yang dimaksud di sini adalah aturan-aturan hidup yang sangat banyak, yang mengekang dan membelenggu. Tetapi Paulus sekali-kali tidak mengatakan, bahwa koridor hidup Kitab Suci harus dihilangkan. Di sisi lain, hukum tersebut dibuat untuk sebuah tujuan. Tujuan tersebut adalah agar umat-Nya dapat hidup kudus: “Haruslah kamu menjadi orang-orang kudus bagi-Ku.” Oleh karena itu bukan kita hidup untuk hukum, melainkan hukum dicipta untuk kekudusan hidup kita, supaya kehidupan ini dapat menjadi teratur. Biarlah kita selalu membaca Firman-Nya yang merupakan koridor jalan kehidupan kita. Setiap hari kita membacanya, melaluinya kita dapat menjaga kekudusan kita.

SOLI DEO GLORIA

4 Agustus 2019

Bacaan: Keluaran 19-20
Fokus: Keluaran 20:22-23

God and God Alone

TUHAN adalah Tuhan yang Pencemburu. Apa makna dari pernyataan ini? Kata cemburu dalam bahasa Inggris ada dua, yaitu jealous dan envy. Meski kedua kata ini adalah sinonim, tetapi antara keduanya tentu tetap ada perbedaan. Envy merupakan kecemburuan yang didasari oleh ketidakpunyaan. Misalnya seseorang cemburu terhadap tetangganya, karena tetangganya memiliki mobil baru, sedangkan dia tidak punya. Kecemburuan ini lebih mempunyai makna sebagai ‘iri’. Berbeda dengan envy, maka jealous merupakan kecemburuan yang didasari oleh kepunyaan. Misalnya, seseorang memiliki sebidang tanah. Tetapi tanah miliknya ini diserobot oleh orang lain. Maka ia akan berusaha lewat polisi atau pengadilan agar tanah miliknya itu kembali kepadanya. Jadi TUHAN akan cemburu ketika mengetahui umat kepunyaan-Nya menyembah ilah lain.

Pada perikop kita hari ini ditegaskan oleh Firman TUHAN, bahwa umat-Nya tidak diperbolehkan untuk membuat ilah apapun di samping TUHAN. Umat-Nya tidak diperbolehkan untuk mendua hati. Itulah yang pernah dikatakan Tuhan Yesus tentang memilih Mamon atau Tuhan. Syahadat Israel selalu diterjemahkan “TUHAN itu esa!” Tetapi kata ini sebenarnya dapat diterjemahkan “TUHAN saja!” Yang TUHAN mau adalah, bahwa hanya TUHAN saja yang dihati kita. IA tidak mau diduakan dalam hati kita. Biarlah di dalam kehidupan kita, hanya TUHAN saja yang ada selalu di dalam hati kita.
SOLI DEO GLORIA

3 Agustus 2019

Bacaan: Keluaran 17-18
Fokus: Keluaran 17:1-7

BERSUNGUT-SUNGUT, BUKAN JALAN KELUAR

TUHAN sangat mengasihi umat-Nya Israel. Sebagai bukti kasih-Nya, Ia membawa keluar dan membebaskan umat-Nya dari perbudakan keras yang dilakukan oleh Firaun. Dengan mujizat-mujizat-Nya, Ia membebaskan mereka. Sepuluh tulah melanda bangsa Mesir. Laut Teberau dibelah, umat-Nya berjalan menyeberang melalui celah belahan dinding air yang dahsyat. Tiang awan di siang hari dan tiang api di malam hari selalu melindungi dan menyertai mereka. Manna yang selalu turun tepat waktu. Namun apa balasan dari umat Israel? Mereka justru bersungut-sungut dan menyelesaikan masalah dengan kekerasan dan memaksa. Mengapa demikian? Itu adalah sifat yang self centered. Sifat yang maunya enak dan menangnya sendiri. Mereka tidak memandang kepada TUHAN dalam iman, bahwa TUHAN mengasihi mereka. Mujizat-mujizat yang ajaib, yang baru saja mereka alami, seolah dengan mudah, telah hilang dari ingatan dan pikiran mereka. Yang jelas, mereka tidak God centered.

Tidak God centered, melainkan self centered, itulah kata yang paling tepat untuk menggambarkan sifat mereka. Mereka memilih “bersungut-sungut” untuk menyelasaikan masalah. Sebenarnya “bersungut-sungut” bukanlah hal yang tepat untuk menyelesaikan masalah. Justru “bersungut-sungut” menyebabkan hati TUHAN yang berduka. Justru ini adalah kesalahan fatal yang telah dilakukan umat Israel kepada TUHAN. Seharusnyalah mereka menyelesaikan masalah dengan mengambil sikap beriman, bahwa TUHAN selama ini telah mengasihi mereka. Mujizat-mujizat-Nya senantiasa menyertai dan selalu tepat waktu dalam menolong. Di dalam kekinian pun TUHAN senantiasa menyertai mereka lewat manna dan tiang awan dan api. Dengan iman, seharusnyalah mereka dapat menghadapi semua.
Marilah kita dengan iman mengahadapi setiap yang terjadi dalam kehidupan kita. Dia selalu menyertai kita. Dia akan tepat waktu menolong kita. Setiap peristiwa yang terjadi dalam hidup adalah dalam rancangan dan rencana-Nya yang terbaik dalam kehidupan kita.

SOLI DEO GLORIA

2 Agustus 2019

Bacaan: Keluaran 15-16
Fokus: Keluaran 15:1-3

MEMUJI TUHAN DENGAN NYANYIAN

Nyanyian merupakan bahasa universal seseorang untuk mengungkapkan sesuatu yang ada dalam hatinya. Jika seseorang sedang bersedih, ia akan menyanyikan lagu sedih. Jika mendapatkan permasalahan yang besar, nyanyian ratapan dapat menjadi sarana untuk mengungkapkan keluhannya. Jika ia sedang bersukaria, maka ia dapat bernyanyi dengan riang gembira sambil menari.

Ketika itu Musa dan umat Israel berhasil bebas dari perbudakan yang dilakukan Firaun. Mujizat-mujizat Tuhan menyertai proses pembebasan itu. Terakhir, mereka dapat berjalan di tengah-tengah lautan yang terbelah. Ketika mereka mengalami beberapa pengalaman yang ajaib itu dan kemudian benar-benar terbebaskan, maka mereka memuji Tuhan dengan nyanyian. Mereka memuji, bahwa Tuhan yang telah menyelamatkan mereka adalah kekuatan dan mazmur mereka. Artinya, Tuhanlah yang merupakan kekuatan mereka dalam menghadapi Firaun, sehingga inti pujian (mazmur) mereka hanya kepada TUHAN saja.

TUHAN selalu menjadi menyertai kita. Jika kita mendapat kesulitan hidup, DIAlah yang menjadi kekuatan kita. DIA selalu menolong kita. Maka DIA adalah mazmur kita, yaitu segala pujian dan hormat hanya bagi DIA.
SOLI DEO GLORIA

1 Agustus 2019

Bacaan: Keluaran 13-14
Fokus: Keluaran 13:3

MENGINGAT KEBAIKAN TUHAN

Kata kerja “mengingat” selain memiliki makna “mengingat apa yang terjadi di masa lampau”, juga berarti “memperhatikan”. Pada ayat 3 yang menjadi fokus kita ini, Tuhan memberikan perintah, agar hari di mana mereka keluar dari Mesir ini selalu diperingati setiap tahunnya. Perintah untuk memperingati ini memiliki makna:

1. Mengingat akan yang telah terjadi di masa lampau, bahwa Tuhan telah mengeluarkan umat-Nya dari tanah perbudakan. Berarti, proses mengingat ini adalah proses mengenang akan peristiwa itu. Yang diharapkan dalam proses mengenang ini adalah, bahwa melalui mengenang akan peristiwa tersebut, maka kita dapat mengucapsyukur, bahwa Tuhan telah menyertai umat-Nya, maka Tuhan juga akan menyertai kita. Dari situ akan muncul pujian syukur kepada Tuhan.

2. Memperhatikan, bahwa ini merupakan sebuah peristiwa penting dalam kehidupan, bahwa Tuhan menyertai mereka. Oleh karena itu kita tidak akan kuatir di dalam kehidupan ini.

Ada sebuah lagu yang sangat baik, yaitu “Bila Topan Keras Melanda Hidupmu”. Di dalam lagu ini diajarkan, bahwa ketika kita menghitung berkat-berkat Tuhan di masa lampau, maka meskipun persoalan besar melanda kehidupan kita, kita tetap dapat mengucapsyukur kepada-Nya dan tidak kuatir, karena Tuhan selalu menyertai kita.

SOLI DEO GLORIA

31 Juli 2019

Bacaan: Keluaran 11-12
Fokus: Keluaran 12:43-49

PENETAPAN HARI RAYA PASKAH

Perikop fokus kita berbicara tentang penetapan hari raya paskah bagi umat Israel. Pada mulanya Paskah dihubungkan dengan Tuhan menyelamatkan seluruh anak sulung umat Israel melalui tanda darah anak domba. Melalui darah anak domba, maka anak-anak sulung Israel terselamatkan. Sedangkan anak-anak sulung bangsa Firaun, bahkan anak-anak sulung ternak mereka, semuanya mati oleh karena tulah kesepuluh. Kemudian, secara kebangsaan, hari raya Paskah dimaknai sebagai terbebasnya bangsa Israel dari perbudakan Mesir oleh karena Tuhan mengasihi mereka.

Di dalam Perjanjian Baru, makna Paskah kembali kepada makna awal, yaitu Tuhan menyelamatkan yang sulung dari kematian oleh karena darah anak domba. Tuhan Yesus adalah Anak Domba yang telah mati mengorbankan diri-Nya. Melalui pengobanan Darah Anak Domba inilah, maka semua umat manusia yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh kehidupan kekal. Kita memang bukan orang Israel. Tetapi pada ayat 12:48 dinyatakan, bahwa orang asing (bukan Israel) yang telah disunat layak untuk merayakan Paskah, dan mereka dianggap sebagai orang asli (orang Israel asli). Melalui Kristus kita terhisab sebagai orang Israel asli dan layak merayakan Paskah, bahwa Darah Anak Domba telah menyelamatkan kita yang percaya.

SOLI DEO GLORIA

30 Juli 2019

Bacaan: Keluaran 9-10
Fokus: Keluaran 9:7b dan 9:12

TUHAN MENGERASKAN HATI FIRAUN

Jika kita membandingkan antara ayat 7b dan 12 pada pasal 9, maka kita akan melihat perbedaan subjek. Untuk ayat 7b, subjeknya adalah Firaun. Firaun yang mengeraskan hatinya sendiri di dalam melepaskan umat Israel untuk kembali ke tanah Kanaan. Hal ini berlangsung sampai lima tulah, bahwa Firaun tetap mengeraskan hatinya. Tetapi pada ayat 12, sang subjek berganti, bahwa Tuhan yang mengeraskan hati Firaun. Jadi bukan Firaun yang mengeraskan hatinya sendiri, melainkan Tuhanlah yang mengeraskan hatinya. Mengapa Tuhan mengeraskan hati Firaun?

Pada perikop-perikop sebelumnya, telah berlangsung lima tulah, dan Firaun masih tetap mengeraskan hatinya. Jadi pada dasarnya Firaun memang sudah tidak mau bertobat. Memang kehendak hatinya tidak ingin untuk bertobat di hadapan Tuhan. Firaun sudah berketetapan hati untuk tidak mau melepaskan umat Israel. Jadi oleh karena Tuhan mengenai kehendak hati Firaun yang demikian, maka pada tulah-tulah berikutnya Tuhan sendiri yang mengeraskan hati Firaun.

Tuhan menghargai kehendak bebas atau free will kita, seperti halnya Tuhan menghargai free will Firaun. Tetapi Firaun menyiakan kesempatan yang diberikan Tuhan kepadanya untuk membolehkan bangsa Israel kembali ke negerinya. Untuk itu, tulah yang paling berat diterima Firaun. Tulah yang paling berat yang sebenarnya adalah “Tuhan mengeraskan hati Firaun”. Jangan sampai tulah itu menimpa kepada kita. Dalam free will kita, hendaknya kita selalu tunduk dan taat kepada-Nya.

SOLI DEO GLORIA

29 Juli 2019

Bacaan: Keluaran 7-8
Fokus: Keluaran 8:32

KEKERASAN HATI FIRAUN

Sampai pada pasal 8 ini sudah empat tulah yang menimpa Firaun dan bangsa Mesir. Banyak penderitaan menimpa mereka. Apa yang menyebabkan kekerasan hati Firaun?

Dalam pola pemikiran zaman dulu, peperangan antar bangsa itu diangggap juga peperangan antar tuhan. Firaun juga menganggap, bahwa persoalan antara bangsa Ibrani dan bangsa Mesir ini juga peperangan antar tuhan, yaitu peperangan antara Tuhannya bangsa Ibrani dan tuhan-tuhannya bangsa Mesir. Firaun menganggap, bahwa karena tuhannya bangsa Mesir sangat banyak dan hanya melawan satu Tuhan saja, sehingga dengan yakin ia beranggapan, bahwa pasti ia akan menang. Karena baru empat tuhan yang dikalahkan, dan masih banyak tuhan lainnya yang belum terkalahkan, maka ia tetap mengeraskan hatinya, karena menganggap, bahwa ia akan menang. Ia tidak tahu, bahwa TUHANnya umat Israel adalah Maha Besar, mengatasi segala ilah di dunia ini.

Di dalam kehidupan kita, hendaknya hanya TUHAN saja di dalam hati kita. Kita tidak boleh membandingkan dengan yang lainnya, karena dengan demikian, kekerasan hati akan muncul dalam hati kita.

SOLI DEO GLORIA